Cinta tak kan Salah

        Cinta Tak Akan Pernah Salah

      Alunan ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup di telingaku. Cahaya matahari seakan membias menuju kamarku. Sinarnya menerobos masuk tanpa permisi melalui jendela yang sengaja di buka lebar-lebar. Di dalam kamar, aku sibuk membungkus sebuah kado untuk lutfi sebagai kenang-kenangan dari desaku. Sore ini Lutfi akan kembali ke kota. Ada sedih yang menyelinap di hatiku, tapi aku tak dapat berbuat apa-apa. Di ruang tamu, Alif dan Dinda sudah menungguku. Aku mengejapkan mata beberapa kali karena kaget dengan teguran Dinda. Setelah bebrapa jam, akhirnya aku bertemu dengan Lutfi yang mnyambutku dengan senyuman manis di bibirnya. Aku hanya dapat menahan pedih di hati sambil memberikan kado sebagai kenang-kenangan dariku.

      Denting suara hati semakin menggila, aku tak tahu dengan tepat apa yang kuasakan saat ini. Yang jelas hatiku terasa teriris karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan sosok teman yang begitu spesial dan sudah mengisi hari-hariku selama 12 tahun. Aku nyaris saja meneteskan air mata di hadapannya. Benar-benar sakit menahan semua perasaan itu di dalam dada, tapi aku tak mampu untuk mengungkapkannya. Sejenak kami kembali bercanda ria sambil menikmati segelas teh hangat yang sudah disediakan oleh orang tua lutfi. Aku tersenyum, tapi kenapa semakin tersenyum semakin sakit kurasa. Akhirnya tiba saatnya Lutfi pergi.

      Sebelum masuk ke dalam mobil, lutfi menyempatkan diri untuk memelukku. Rasanya tak ingin tubuh ini lepas dari pelukannya. Akhirya air matakupun jatuh membasahi pipiku. Lutfi cuma tersenyum dan berkata bahwa dia hanya pergi untuk sementara. Dia juga menitip pesan agar aku dapat menjaga diri dan juga kesehatanku. Dia berjanji akan sering-seing menghubungiku lewat telepon. Sedikit lega mendengar kata-kata itu. Lambaian tanganku mengiringi kepergiannya.

      Hari-hari setelah kepergiannya, hariku berasa mendung setiap hari. Langit yang cerah di pagi indah tak dapat mnyembunyikan kesedihan yang ku rasa. Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan keadaaan ini. Setiap hari aku berharap Lutfi tahu apa yang aku rasakan. Lebih-lebih aku berharap dia merasakan apa yang aku rasakan. Setelah 12 tahun mengenalnya, tak pernah ia menabur luka di hatiku. Hanyalah canda tawa dan kebahagiaan yang ia berikan kepadaku. Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah terus berdoa.

     Aku sudah mengukir namanya bersebelahan dengan namaku. namun apa daya, dia hadir di saat aku benar-benar telah kehilanganmu. cinta yang aku tunggu sekian lama bersua dengannya membuatku tertawa bahagia. berada di dekatnya membuat aku merasakan atmosfer yang luar biasa indahnya. Adakah dia yang menjadi labuhan hatiku ? Sementara di sini. . .  Di balik hati yang lainnya, namamu masih terpatri dengan jelas. Cinta. . tak pernah mau tahu kepada siapa ia berlabuh. Entah kepada aku, kau, ataupun dia. yang aku tahu, aku adalah tulang rusuk dari salah satu adam yang Tuhan tunjuk untuk saling berbagi. Aku percaya, akan ada seseorang yang tepat yang dapat mendampingiku. Karena memang cinta tak kan pernah salah.

Image

love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s